bisnis-logo

Stories

Jejak Korporasi Dunia, dari VOC hingga Apple. Siapa Juaranya?

Pada era kapitalis ini belum ada perusahaan yang mampu mengalahkan gelembung kapitalisasi emiten saat abad Imperialis. Tiga perusahaan era kolonialisme mendominasi peringkat teratas. Apakah disebabkan praktik monopoli dan tangan besi untuk menguasai sendi-sendi perekonomian?

30 April 2021

A+
A-

Mendengar nama kompeni, penduduk Indonesia mengasosiasikan dengan penjajah, Belanda. Kata ini seolah membuka memori kelam, trauma masa lalu, akan penjajahan 350 tahun di Tanah Air.

Kompeni atau dalam bahasa Belanda, compagnie, sebenarnya berasal dari VOC atau Vereenigde Oostindische Compagnie. VOC sendiri adalah sebuah kongsi dagang yang berada di bawah pemerintah Belanda yang saat itu masih berstatus republik.

Lebih dari sekadar kongsi dagang, VOC ternyata memiliki hak dan kewenangan istimewa. VOC bertugas untuk memonopoli perdagangan Tanjung Harapan sampai dengan Selat Magelhaens, termasuk Nusantara.

Kewenangan spektakuler lainnya adalah bisa mencetak uang sendiri, membentuk angkatan perang sendiri, dan memerintah di tanah jajahan Belanda. Di balik memori kelam yang melekat di namanya, tersimpan kumpulan fakta sejarah yang luar biasa dari VOC.

VOC yang didirikan pada 20 Maret 1602 oleh Parlemen Republik Belanda menjadikan Amsterdam sebagai pusat keuangan global selama dua abad.

VOC didirikan lewat merger empat perusahaan dagang, yakni Brabantsche Compagnie, Compagnie van Verre, Compagnie can De Moucheron, dan Veerse Compagnie. Keempat perusahaan itu dijadikan satu untuk menghindari persaingan antar perusahaan Belanda di kawasan Hindia Timur.

Dalam narasi sejarah, VOC juga menjadi perusahaan multinasional yang terbesar sepanjang sejarah pasar modal. Perusahaan yang pertama kali resmi menjual sahamnya ini menuai untung besar ketika harga sahamnya memuncak di periode Tulip Mania.

VOC memiliki pos di Tanjung Harapan, Persia, Benggala, Ceylon, Malaka, Siam, Cina daratan, Formosa, selatan India, dan tentu saja Indonesia.

Kongsi dagang ini merupakan perusahaan terkaya pada 1669. Memiliki lebih dari 150 perahu dagang, 40 kapal perang, 50.000 pekerja, 10.000-an angkatan bersenjata, dan menyetorkan dividen sekitar 40 persen kepada Belanda.

Bahkan, ukuran omzetnya digadang-gadang lebih besar dari pendapatan domestik bruto beberapa negara di dunia.

Dikutip dari Dutch Review, saham VOC sempat mendongkrak nilai perusahaan setara dengan US$7,9 triliun dolar saat ini, atau Rp114.550 triliun. Angka ini menjadikan VOC sebagai perusahaan multinasional dengan nilai kapitalisasi terbesar di dunia hingga kini.

Pendapatannya mencapai sekitar 7,5 juta gulden antara tahun 1650 dan 1680. Pendapatan itu meningkat menjadi 20 juta gulden pada 1720. Angka itu bertahan hingga 1780, menurut Global Financial Data.

Suku bunga yang lebih rendah memungkinkan VOC untuk membiayai lebih banyak perdagangan melalui hutang. Perusahaan membayar dividen tinggi. Terkadang dividen didanai melalui pinjaman, sehingga mengurangi jumlah modal yang diinvestasikan kembali.

Mengingat tingginya tingkat overhead yang diperlukan untuk mempertahankan pos terdepan VOC di seluruh Asia, pembengkakkan pinjaman dan penyusutan modal, akhirnya merusak bisnis VOC. Hal itu menyebabkan kehancuran usaha, alias gulung tikar.

Pada 14 April 1822, perusahaan multinasional pertama di dunia ini dinyatakan bangkrut, dan ditutup secara resmi. VOC meninggalkan setumpuk utang yang mencapai 219 miliar gulden, sebelum akhirnya diambil alih pemerintah kerajaan Belanda.

Raksasa Dari Prancis & Inggris

Raksasa lainnya datang dari Prancis. Berdiri pada awal 1700-an. Mississippi Company adalah perusahaan besar, kendati hanya bertahan hidup 20 tahun. Berakhir bangkrut akibat salah urus.

Dikutip dari Bigthink, cerita Mississippi Company bermula dari seorang ekonom Skotlandia bernama John Law yang meyakinkan raja Prancis saat itu, Louis XIV, untuk mengizinkannya menjalankan Banque Générale Privée (General Private Bank) pada 1716.

Saat itu, Prancis telah berjuang dengan mata uang dan status perbendaharaan yang tidak stabil selama beberapa waktu. Bank tersebut mengambil utang nasional, dan digunakan untuk membiayai Mississippi Company untuk mengatur perdagangan dengan Dunia Baru.

Mississippi Company bekerja untuk mengembangkan pasar AS. Tepatnya wilayah Prancis di lembah Sungai Mississippi. Perusahaan dengan cepat tumbuh untuk memegang monopoli atas tembakau Prancis dan perdagangan budak Afrika di wilayah tersebut.

Perusahaan Law, dalam waktu dua tahun, membeli beberapa perusahaan perkapalan lain untuk menciptakan monopoli perdagangan di lautan dunia. Untuk mendanai operasi besar-besaran tersebut, hingga pada 1720, Mississippi Company diikat ke dalam Banque Générale, yang kemudian menjadi Banque Royale.

Pada tahun yang sama, nilai kapitalisasi dari Mississippi Company mencapai puncaknya yakni US$6,5 triliun atau Rp94.250 triliun.

Law secara ‘mati-matian’ terus memacu nilai perusahaan. Bahkan, mereka mengirimkan tahanan dan pelacur dari daratan Eropa ke Amerika untuk bekerja di perusahaannya. Mereka dipekerjakan sebagai tenaga pemasaran yang menjanjikan keuntungan besar dari sahamnya.

Skema tersebut sukses besar. Namun, hanya dalam waktu singkat. Saham melonjak, lalu jatuh. Seluruh siklus kejayaan Mississippi Company hanya berlangsung selama 4 tahun.

Setelah bangkrut, Law melarikan diri ke London. Kemudian ke Venesia. Dia mempertaruhkan apa yang telah ditinggalkan. Akhirnya dia meninggal tanpa sepeser uang pada 1729 di Venesia.

Meski sekejap, Mississippi Company menempati urutan kedua sebagai perusahaan terkaya di dunia setelah VOC.

Pada waktu yang hampir bersamaan dengan kejayaan perusahaan Prancis tersebut, sebuah perusahaan saham gabungan dibentuk di Inggris bernama South Sea Company.

Perusahaan yang berdiri pada 1711 ini berbentuk kemitraan publik-swasta (public private partnership/PPP) untuk mengkonsolidasikan dan mengurangi biaya utang nasional, sekaligus untuk meraup pendapatan.

Pasalnya, Inggris harus menambal biaya perang dengan Prancis yang mencapai 7 juta poundsterling.

Oleh sebab itu, pemerintah memberikan South Sea Company kekuasaan untuk memonopoli perdagangan dengan Amerika Selatan.

Dikutip dari Historic-UK.com, perusahaan menjaminkan Utang Nasional Inggris, yang mencapai 30 juta poundsterling, dengan janji bunga 5 persen dari Pemerintah.

Pada musim panas 1720, saham South Sea Company naik menjadi 10 kali lipat nilainya. Spekulasi menjadi liar.

Dosen Ekonomi dan Sejarah Ekonomi di Universitas Southhampton Helen Paul menuturkan, lonjakan ini sebagian karena investor baru masuk ke pasar dan terbawa suasana. Selain itu, dana segar mengalir dari Prancis.

"Perekonomian Prancis telah mengalami serangkaian reformasi besar-besaran di bawah kendali seorang ekonom Skotlandia bernama John Law," ujarnya dalam tulisan yang dipublikasi oleh The Conversation.

Harga saham South Sea Company naik menjadi 100 poundsterling menjadi 1.000 poundsterling pada Agustus 1720.

Kemudian, saham tersebut anjlok hingga menyentuh di bawah 100 poundsterling pada akhir tahun. Penurunan harga saham ini mengubur dalam-dalam mimpi investor yang ingin menghasilkan uang dalam semalam.

Bahkan, menurut Bigthink, ilmuwan kenamaan Inggris Sir Isaac Newton telah membeli sekitar 22.000 poundsterling saham South Sea Company. Peristiwa ini menjadi tragedi keuangan ikonik sepanjang masa.

Perusahaan melanjutkan perdagangan sampai akhir Perang Tujuh Tahun (1756–1763). Kemudian, fungsi utamanya yang tersisa hanya mengelola utang pemerintah, bukan berdagang seperti sebelumnya.

South Sea Company diketahui terus mengelola sebagian utang pemerintah sampai perusahaan dibubarkan pada 1853. Waktu itu utang tersebut dikonsolidasikan kembali.

Raksasa Timur Tengah

Arabian American Oil Co atau yang disingkat Aramco masih menjadi salah satu perusahaan terkaya di dunia. Pada 2010, kapitalisasi perusahaan sempat mencapai puncaknya hingga US$4,1 triliun.

Aramco didirikan oleh Standard Oil Company, yakni perusahaan milik keluarga Rockefeller, pada 1938. Kemudian pada 1950, perusahaan diwajibkan membagi dividen kepada pemerintah Arab Saudi.

Momentum ini adalah awal dari nasionalisasi perusahaan. Kemudian, pemerintah Arab Saudi membeli semua saham perusahaan pada 1980.

Dengan demikian, pemerintah Arab Saudi memiliki 100 persen saham perusahaan. Delapan tahun kemudian, Perusahaan Minyak Arab Saudi (Saudi Arabian Oil Co/Saudi Aramco) secara resmi didirikan.

Dikutip dari Economic Times, cadangan minyak perusahaan mencapai 260,2 miliar barel minyak pada 2017. Jumlah cadangan ini lebih besar dari cadangan gabungan Exxon Mobil Corp, Chevron Corp, Royal Dutch Shell Plc, BP Plc, dan Total SA.

Cadangan itu diperkirakan mampu bertahan 54 tahun ke depan. Padahal, saat 1949 Aramco baru memproduksi minyak hingga 50.000 barel per hari. Beberapa dekade kemudian, Aramco menjadi sumber kemakmuran Saudi Arabia.

Bahkan, secara de facto kerajaan ini menjadi pemimpin Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Pada 2016, Pangeran Mohammed bin Salman mengemukakan rencana untuk melepas saham Aramco ke publik.

Rencana ini dilandasi oleh pandangan Pangeran Mohammed bin Salman yang ingin menggeser ekonomi Saudi Arabia dari berbasis energi fosil. Dalam arti lain, dia ingin mengurangi ketergantungan pada minyak sebagai pundi-pundi pendapatan negara.

Penawaran saham perdana tersebut terlaksana pada 11 Desember 2019. IPO Aramco menjadi penawaran saham terbesar sepanjang sejarah, dengan valuasi US$1,88 triliun. Bahkan, IPO ini mengalahkan IPO Alibaba sebesar US$25 miliar pada September 2014.

Aramco melepas 1,5 persen sahamnya di Saudi Tadawul. Aramco dengan mudah menyalip posisi Apple Inc (AAPL.O) sebagai perusahaan listing paling bernilai di dunia.

Pada 2018, perusahaan memproduksi hampir 10,3 juta barel per hari. Perusahaan juga menghasilkan LNG sebanyak 1,1 juta barel per hari dan gas alam sebanyak 8,9 miliar per hari.

Adapun, negara-negara Asia yang menjadi pembeli produk Aramco a.l. China, India, Korea Selatan, Japan, dan Taiwan.

Berawal Dari Garasi Tua

Pada 1 April 1976, Apple didirikan oleh Steve Jobs, Steve Wozniak, serta Ronald Wayne. Berawal dari garasi tua, ketiganya tidak menyangka bahwa saat ini valuasi perusahaan telah mencapai US$2 triliun.

Apple Inc. mencatatkan sejarah di bursa saham Amerika Serikat dengan kapitalisasi pasar melampaui US$2 triliun setelah saham melonjak hari Rabu (19/8/2020).

Mantan eksekutif pemasaran senior Apple Michael Gartenberg mengatakan tonggak pasar sekali lagi menunjukkan kecerdasan Tim Cook yang luar biasa sebagai CEO Apple.

Tim Cook meneruskan kepemimpinan almarhum Steve Jobs setelah dia mundur diri pada 2011.

“Kunci kesuksesan Apple adalah komitmen yang teguh untuk memperhatikan detail hal-hal yang mungkin dianggap biasa oleh perusahaan lain,” ujarnya, seperti dikutip Bloomberg.

Perjalanan Apple tidak sepenuhnya manis. Ketika Jobs menduduki posisi CEO pada 1997, perusahaan tengah berjuang merebut dominasi Microsoft. Persaingan Steve Jobs dan Bill Gates pun cukup sengit.

Microsoft mengilas Apple pada 1983, ketika Bill Gates memperkenalkan sistemnya, bernama Windows. Perselisihan kepemimpinan juga mewarnai perusahaan, ketika Steve Jobs ingin melengserkan CEO Apple saat itu John Scully pada 1985.

Jajaran direksi mendukung Scully dan menghapus tugas Jobs. Sementara itu, Steve Wozniak mundur dari perusahaan pada 1985. Jauh dari itu, Ronald Wayne berpisah sebelum Apple berdiri sebagai sebuah perusahaan.

Kendati ditinggalkan para pendirinya, Apple bisa membuktikan kekuatannya sebagai perusahaan teknologi kelas dunia. Semasa pandemi tahun lalu, perusahaan bahkan menorehkan kinerja bombastis.

Dikutip dari Bloomberg, Apple melaporkan pendapatan hingga US$111,4 miliar atau setara Rp1.573 triliun pada kuartal IV/2020. Dengan demikian, earning per share (EPS) Apple mencapai US$1,68 per lembar saham.

Perolehan ini menjadi rekor tertinggi sepanjang masa dari pendapatan Apple. Sumber pendapatan utama perusahaan ditopang oleh penjualan ponsel pintarnya, iPhone, yang mencapai US$65,60 miliar.

Menanggapi kinerja tersebut, CEO Apple Tim Cook menilai kinerja tersebut masih bisa lebih baik lagi jika tidak ada pandemi Covid-19.

Dengan melihat potret sejarah korporasi dunia ini, berarti pada era modern belum ada perusahaan yang mampu mengalahkan kapitalisasi emiten saat abad Imperialis. Bisa jadi perusahaan semacam VOC, Mississippi Company, dan South Sea Company berjaya karena ditopang oleh monopoli dan tangan besi untuk menguasai sendi-sendi perekonomian.

Apakah era modern ini korporasi meninggalkan praktik-praktis semacam itu?

Penulis : Hadijah Alaydrus
Editor : Hendri T. Asworo
Previous

Karamnya Nanggala-402 dan Anggaran Cekak Negara

Next

'Perkawinan' Gojek-Tokopedia, Akankah Euforia Bertahan Lama?

back-to-top
To top