bisnis-logo

Stories

Jejak 'Juru Selamat' di Lintasan Sejarah

Peran dokter menjadi kunci lahirnya peradaban di tanah Nusantara. Dari masa pergerakan prakemerdekaan hingga pasca reformasi. Profesi dokter kini diuji saat pandemi. Musuh yang tak terlihat, berbeda dengan perlawanan era kolonial.

13 Agustus 2021

A+
A-

Profesi dokter memegang peranan penting dalam situasi pandemi Covid-19. Mereka tampil di garis depan. Berjibaku dengan virus Corona yang sangat berbahaya.

Tak sedikit yang tumbang atawa meninggal usai terpapar virus Corona.

Data tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mencatat terdapat 640 dokter gugur akibat terinfeksi Covid-19 hingga Rabu (4/8/2021). Jumlah tersebut belum termasuk dokter atau tenaga medis yang dirawat akibat infeksi virus tersebut. 

Sama halnya dengan penanganan pandemi. Pada masa awal pergerakan Indonesia, dokter-dokter nusantara juga berjuang untuk membangkitkan semangat kebangsaan.

Organisasi Budi Utomo, Indische Partij, hingga gerakan pendidikan yang dipelopori oleh Ki Hadjar Dewantara, juga lahir dari pemikiran dokter atau tokoh jebolan sekolah kedokteran, STOVIA.

Tak hanya itu, banyak juga dokter yang terjun langsung dalam berbagai palagan peperangan. Ada sejumlah nama dokter yang cukup legendaris pada masa transisi Indonesia pascakolonialisme.

dr Kariadi

dr Kariadi

Di Semarang terdapat sosok dr Kariadi yang gugur dieksekusi Jepang. Sementara di Solo, ada sosok dr Moewardi. Moewardi adalah pemimpin Barisan Banteng. Dia hilang saat memanasnya pertarungan kubu nasionalis dengan kubu komunis di Kota Solo.

Tulisan ini merupakan kolaborasi dengan Astra dalam menyambut HUT ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tema soal dokter sengaja diangkat, untuk menghormati para tenaga kesehatan yang telah gugur, bukan hanya saaat berjibaku dengan pandemi, tetapi dalam bingkai perjuangan pra hinga pasca kemerdekaaan.

***

Abad ke 20 ditandai dengan menjamurnya gerakan nasionalisme. Negara imperialis dan kolonialis mulai tumbang. Ide-ide kemerdekaan bersemi di sejumlah negara yang dikolonisasi. Tak terkecuali di Indonesia.

Menariknya, gerakan nasionalisme awal di Indonesia banyak dipelopori oleh para intelektual, kebanyakan berlatar belakang dokter dan mahasiswa sekolah kedokteran.

Syahdan tahun 1908 para mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA) berkumpul. Budi Utomo kemudian lahir.
Motor gerakan ini adalah dr Wahidin Sudirohusodo.

dr Wahidin Sudirohusodo

dr Wahidin Sudirohusodo

Dr Wahidin adalah seorang dokter pemerintah, intelektual dari kalangan priyayi Jawa. Dia dikenal memiliki pemikiran yang cukup progresif untuk waktu itu.

Wahidin menaruh perhatian pada peningkatan martabat bangsa bumiputra. Dia kerap berkeliling Pulau Jawa hanya sekadar untuk memberi beasiswa pendidikan kepada pemuda dari golongan priyayi Jawa.

"Wahidin berusaha memperbaiki masyarakat Jawa melalui pendidikan Belanda," tulis M.C Riklefs dalam Sejarah Indonesia Modern.

Gerakan dokter Wahidin mendapat momentum ketika dia berkunjung ke STOVIA pada tahun 1907. Wahidin saat itu berbicara tentang pentingnya membuat suatu wadah organisasi.

"Wahidin berusaha memperbaiki masyarakat Jawa melalui pendidikan Belanda," tulis M.C Riklefs dalam Sejarah Indonesia Modern.

Pemikiran Wahidin menarik perhatian sejumlah mahasiswa STOVIA. Pada 20 Mei 1908, mahasiswa kedokteran di STOVIA sepakat untuk membentuk organisasi.

Budi Utomo kemudian diumumkan. Tokoh-tokohnya hampir semuanya berlatar belakang mahasiswa kedokteran dari kalangan priyayi Jawa.

Tokoh pergerakan yang cukup populer dalam Budi Utomo adalah dokter Sutomo, Tjipto Mangunkusumo, dan Radjiman Wedyodiningrat.

dr Sutomo

dr Sutomo

Budi Utomo menjelma menjadi gerakan intelektual. Namun anggotanya hanya terbatas dari kalangan priyayi Jawa – Madura. Identifikasi Budi Utomo dan identitas kejawaan itu semakin kentara karena nilai-nilai yang diperjuangkan adalah kemajuan elit Jawa.

Imbasnya, organisasi ini kurang progresif. Eksklusifitas Budi Utomo menimbulkan persoalan. Organisasi ini tak pernah memiliki basis massa yang kuat. Jauh dari rakyat, dan lebih mirip gerakan moral para aristokrat Jawa.

dr Tjipto Mangunkusumo

dr Tjipto Mangunkusumo

Sebagian elit Budi Utomo resah dengan kondisi tersebut. Pada Oktober 1908, dalam pelaksanaan Kongres yang pertama di Yogyakarta, Tjipto Mangunkusumo mengungkapkan unek-uneknya.

Dia mengemukakan gagasan yang cukup revolusioner. Tjipto merasa jengah dengan arah gerakan organisasi yang tak jelas juntrungannya. Dia ingin Budi Utomo lebih progresif.

Aktivitasnya tak sekadar memperjuangkan nasib kalangan priyayi. Tetapi, rakyat dari semua lapisan.

Tjipto juga mencoba membongkar eksklusifitas Budi Utomo. Dia mengusulkan supaya Budi Utomo menjadi partai politik dan kegiatannya tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Hanya, langkah progresif Tjipto tersebut kurang mendapat respons positif. Gerakan Budi Utomo, yang lahir dari kalangan priyayi dan dokter-dokter Jawa tersebut, tetap saja lamban.

Tjipto juga mencoba membongkar eksklusifitas Budi Utomo. Dia mengusulkan supaya Budi Utomo menjadi partai politik dan kegiatannya tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Organisasi ini kemudian kerap disorot karena lebih merespons kepentingan Belanda daripada kepentingan rakyat bumiputra.

Suwardi Suryaningrat

Suwardi Suryaningrat

Alhasil, Tjipto yang notabene seorang yang bercorak politik dan radikal, memutuskan hengkang dari Budi Utomo. “Tjipto Mangunkusumo berhenti dari badan pengurus sebelum kongres yang kedua,” tulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto.

Langkah Tjipto itu juga diikuti para pemuda STOVIA lainnya. Golongan minoritas itu kecewa dengan arah organisasi. Mereka kemudian ramai-ramai memutuskan berhenti dari keanggotaan Budi Utomo. 

Tjipto selepas dari Budi Utomo, kemudian mendirikan Indische Partij (IP). Organisasi yang lebih revolusioner. IP didirikan oleh tiga tokoh pergerakan pada tahun 1912. Konsep nasionalisme Indische atau Indonesia, sangat jelas dalam gerakan ini dibandingkan dengan Budi Utomo.

Ketiga pendiri IP antara lain Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) dan Tjipto Mangunkusumo yang berlatar belakang STOVIA, serta seorang blasteran bumiputra-Eropa, Ernest Douwes Dekker.

Dr Rajiman Dokter Pemikir

Meski banyak dicibir kurang revolusioner dan bergerak lamban. Budi Utomo tetaplah suatu organisasi yang melahirkan tokoh-tokoh sentral dalam sejarah pergerakan Indonesia.

Salah satu tokoh dokter yang memiliki peran sentral selama pergerakan hingga pergolakan kemerdekaan adalah Radjiman Wedyodiningrat.

dr Radjiman Wedyodiningrat

dr Radjiman Wedyodiningrat

Dokter Rajiman adalah seorang ningrat Jawa. Sebagian sumber menyebut dia memiliki trah dari Sulawesi. Radjiman mengabdi sebagai dokter pribadi Pakubuwono (PB) X, raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang secara diam-diam menyokong keberadaan Budi Utomo.

Embel-embel Weryodiningrat yang berada di belakang namanya adalah pemberian dari PB X. Radjiman sendiri lahir di Yogyakarta pada 1879.

Ricklefs mencatat dr Radjiman sebagai intelektual yang dipengaruhi oleh pemikiran khas Jawa dan sejumlah aliran filsafat barat seperti dialektika Hegel, subjektivisme Kant, serta antirasionalisme Bergson.

Pada masa awal pergerakan, Radjiman merupakan salah satu pendiri Budi Utomo. Dia juga aktif dalam gerakan teosofi, yang menggabungkan antara pemikiran Jawa degan pemikiran barat.

Embel-embel Weryodiningrat yang berada di belakang namanya adalah pemberian dari PB X. Radjiman sendiri lahir di Yogyakarta pada 1879.

Sementara itu, pada masa transisi kemerdekaan, priyayi asal Yogyakarta tersebut terlibat aktif dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Dr Radjiman adalah ketua BPUPKI yang beranggotakan kurang lebih 62 orang. BPUPKI adalah salah satu lembaga bentukan Jepang, yang bertugas untuk mempersiapkan segala hal dalam pembentukan negara Indonesia Merdeka.

Salah satu peran penting BPUPKI adalah perumusan dasar negara. Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka merekam jelas sejumlah sidang-sidang badan tersebut.

Sidang pertama BPUPKI berlangsung pada 29 Mei – 1 Juni 1945. Salah satu agenda sidang tersebut adalah mendiskusikan dasar atau filsafat negara jika kelak Indonesia merdeka.

Sebuah sumber menyebutkan Dr Rajiman, yang merupakan salah satu petinggi BPUPKI, kemudian bertanya kepada Soekarno.

“Apa dasar negara jika kelak Indonesia merdeka?,” tanya Rajiman.

“Pancasila,” demikian jawaban dari Soekarno.

Pancasila yang monumental kemudian lahir. Ada lima poin penting yang disampaikan mencakup masalah ketuhanan, humanisme, nasionalisme, demokrasi, dan keadilan sosial.

Peran Radjiman dalam gerakan menuju kemerdekaan tak sampai di situ.  Dia ikut terbang ke Dalat, Vietnam, bersama Soekarno dan Hatta atas undangan Jenderal Terauchi ke Dalat. Jenderal Terauchi adalah panglima tertinggi tentara Jepang di kawasan Asia Tenggara.

“Terauchi menjanjikan kepada Radjiman, Hatta, Seokarno, kemerdekaan bagi seluruh wilayah bekas Hindia Timur Belanda,” tulis Riklefs menjelaskan pertemun tiga tokoh tersebut dengan petinggi militer Jepang.

Kelak, usai pertemuan itu, persiapan kemerdekaan semakin matang. Sejumlah tokoh pergerakan mulai mengambil langkah strategis untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Pada 14 Agustus 1945 sekitar pukul 16.00 WIB, Sutan Syahrir datang ke rumah Bung Hatta. Selain membawa kabar soal kekalahan Jepang, Syahrir juga menanyakan hasil pertemuan Radjiman, Bung Karno dan Hatta dengan Jenderal Terauchi.

Hatta menjawab dengan lugas pertanyaan Syahrir. “Tergantung dari kita sendiri,” kata Hatta dilansir dalam artikel Merdeka Sebelum Jagung Berbunga.

Syahrir segera menyergah pernyataan Hatta. Menurutnya, sebaiknya pengumuman kemerdekaan Indonesia jangan diserahkan kepada PPKI, karena ada kesan bahwa PPKI adalah bikinan Jepang.

Meski dipenuhi intrik dan perdebatan antara golongan tua dan golongan muda, hingga penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, kemerdekaan bangsa Indonesia akhirnya diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Sementara itu, Radjiman tetap aktif usai proklamasi kemerdekaan itu. Dia tercatat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), KNIP (cikal bakal DPR), dan memimpin sidang DPR.

Dr Radjiman wafat pada 1952 di Ngawi, Jawa Timur. Kiprahnya selama pergerakan nasional hingga kemerdekaan Indonesia sulit dilupakan. Para sejarawan telah sepakat, Radjiman adalah salah satu tokoh pendiri bangsa.

Jalan Pedang dr Moewardi

Seperti Tjipto Mangunkusumo, Radjiman, dan Sutomo, Moewardi adalah dokter lulusan STOVIA. Meski aktif di pergerakan, Moewardi mengambil jalan pedang dalam perjuangan mempertahankan kemeerdekaan Indonesia.

dr Moewardi

dr Moewardi

Moewardi tercatat sebagai mahasiswa School Tot Opleiding Voor Indische Arsten (STOVIA) pada 1926. Lulus dari STOVIA, dia kemudian melanjutkan di Nederlansch Indische Arts School (NIAS) hingga lulus sebagai dokter pribumi pada 1931.

Nama Moewardi semakin berkibar saat persiapan kemerdekaan Indonesia. Dia sangat aktif dalam Barisan Pelopor, sebuah organ bentukan Jepang yang dipimpin Soekarno. Moewardi terlibat dalam persiapan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan di Pegangsaaan Timur.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Dr. Moewardi ditunjuk sebagai Ketua Umum Barisan Pelopor menggantikan Bung Karno yang diangkat menjadi presiden. Barisan pelopor kemudian berubah menjadi Barisan Banteng pada akhir 1945.

Awal 1946, Moewardi memindahkan Barisan Banteng dari Jakarta ke Solo. Moewardi juga terjun ke langsung politik dengan membentuk Gerakan Rakyat Revolusioner (GRR) pada Agustus 1948.

GRR adalah gerakan yang melawan agitasi dan aksi antipemerintah yang dilancarkan oleh Front Demokrasi Rakyat (FDR). Sementara, FDR adalah fusi golongan politik beraliran kiri, dua yang terbesar antara lain Partai Komunis Indonesia (PKI) & Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).

Tokoh kelompok ini antara lain Moeso (veteran komunis 1926), Amir Sjarifuddin Harahap (mantan perdana menteri), dan Soemarsono.

GRR, termasuk Barisan Banteng, adalah salah satu kekuatan besar di Solo selama revolusi kemerdekaan. Moewardi adalah tokoh dari dua kelompok ini. Baik GRR maupun Barisan Banteng terlibat konfrontasi terbuka dengan sejumlah faksi di kota Solo.

Hingga, suatu kali, naas bagi Moewardi tiba. Harry A. Poeze dalam buku Madiun 1948: PKI Bergerak menulis, pada pagi hari tanggal 13 September 1948, suasana kota Solo semakin memanas.

Perselisihan antara kubu FDR, pendukung pemerintah, dengan berbagai macam faksi di dalamnya hampir mencapai titik klimaks. Pertempuran terbuka pecah.

Saat itu, tokoh GRR dan BB, Moewardi sedang menuju ke Rumah Sakit Jebres. Di rumah sakit itu dia adalah seorang dokter bedah.

Saat sedang sibuk mengoperasi anak. Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk orang.

Moewardi membuka pintu tanpa curiga. Pintu dibuka. Dia mendapati empat orang pemuda berdiri di depannya. Salah satu di antara pemuda itu berkata ke dokter yang masih berumur 41 tahun tersebut.

“Pak di luar ada orang luka parah yang minta tolong,” celetuk salah satu pemuda tak dikenal tersebut.

Moewardi melangkah ke luar. Dia mengikuti arah empat pemuda itu berjalan. Namun sampai di depan rumah sakit, Moewardi mendapati situasi yang sebaliknya.

Sejak itu, Moewardi lenyap dari gegap gempita revolusi. Dia hilang tanpa diketahui rimbanya.

“Sampai di luar, dia lalu ditodong oleh mereka dan dibawa dengan sebuah mobil open-kap berwarna hijau.”

Sejak itu, Moewardi lenyap dari gegap gempita revolusi. Dia hilang tanpa diketahui rimbanya.

Peristiwa penculikan Moewardi semakin memanaskan kondisi kota Solo. Kubu kiri, FDR & Pesindo, dituding sebagai pemicunya.

Gesekan antar faksi politik pada waktu itu tak terelakan lagi. Indonesia yang masih berumur 3 tahun terjebak dalam potensi perang saudara.

Militer, kubu pendukung pemerintah, hingga kelompok oposisi gabungan kelompok kiri dan sosialis yang tergabung dalam FDR sudah saling berhadapan. Moncong senjata sesekali diletupkan. Hilangnya Moewardi juga membuat GRR dan FDR bersikap.

Harry A Poeze menulis bahwa pada tanggal 14 September 1948 pukul 12.00 WIB, GRR memberikan pernyataan. Mereka berbicara tentang upaya kudeta di Madiun. Tak hanya itu, GRR juga mencela penculikan Moewardi.

“Dalam kesimpulannya, GRR berdiri di belakang penguasa siapapun yang akan memerangi FDR – antek-antek NICA [Belanda] itu,” tukas Poeze.

 

Kolaborasi Atasi Pandemi

Profesi dokter dan tenaga kesehatan dalam penanganan pandemi memegang peran vital. Aktivitasnya bertaruh dengan nyawa. Bahkan ratusan dokter telah berpulang. Mereka menjadi martir dalam menyelamatkan masyarakat.

Oleh karena itu, bantuan serta kolaborasi antara semua stakeholder sangat penting untuk menjaga supaya moril para tenaga medis terjaga. Di sisi lain, peran masyarakat, termasuk korporasi sangat membantu untuk meringankan beban yang ditimbulkan akibat pandemi.

Seiring dengan peringatan HUT ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia, Astra meluncurkan gerakan #SemangatSalingBantu. Melalui #SemangatSalingBantu, Astra bersama-sama mewujudkan masyarakat Indonesia yang tangguh agar dapat terus tumbuh, selaras dengan tema HUT ke-76 Kemerdekaan RI tahun ini, “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.”

Sebagai bagian dari masyarakat, Astra berkomitmen untuk bergandengan tangan membantu masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah agar bersama-sama dapat melewati pandemi Covid-19.

“Astra mengajak seluruh masyarakat untuk bergerak bersama-sama dengan gerakan #SemangatSalingBantu. Kami berharap aksi ini dapat semakin menyebarluaskan semangat masyarakat untuk saling membantu dan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan, khususnya pada masa pandemi COVID-19,” ujar Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro.

Program Astra ini juga sejalan dengan program pemerintah. Presiden Joko Widodo (Joko Widodo) beberapa kesempatan selalu menekankan pentingnya kolaborasi tersebut. Presiden mengatakan upaya penanganan pandemi, termasuk dampaknya, akan berhasil jika ada kolaborasi dengan masyarakat.

Sementara itu, pihak Astra menyatakan bahwa melalui gerakan #SemangatSalingBantu mengajak seluruh masyarakat untuk mengunggah konten yang berisi pesan untuk tetap semangat pada masa pandemi ini serta informasi bantuan yang dapat diberikan kepada warga terkonfirmasi positif Covid-19.

Konten tersebut diharapkan disertai tagar #SemangatSalingBantu dan mention salah satu akun @satu_indonesia di Instagram atau TikTok, atau @SATU_Indonesia di Twitter, atau Semangat Astra Terpadu di Facebook.

Setiap satu konten yang berupa teks atau foto atau video yang diunggah di media sosial tersebut akan dikonversi oleh Astra menjadi satu paket bantuan berupa makanan atau bahan makanan pokok bagi kebutuhan pasien Covid-19 dan masyarakat yang terdampak pandemi.

Penulis : Edi Suwiknyo
Editor : Hendri T. Asworo
Previous

Jasa Keuangan, Tetap Kokoh Diterpa Badai Pandemi

back-to-top
To top